5 Film yang Berlokasi Syuting di Kampus ITB: Latar unik di kampus ITB

Film yang Berlokasi Syuting di Kampus ITB: Latar unik di kampus ITB

Koboy Kampus
cuplikan film Koboy Kampus. (Foto: Kincir.com)

Institut Teknologi Bandung (ITB) telah lama dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di Indonesia, yang mendapat pengakuan tinggi dalam bidang teknik, ilmu pengetahuan, dan seni. Walau fokus utamanya adalah sebagai pusat pembelajaran dan riset, kampus ITB juga telah mengukir namanya sebagai latar menarik bagi beberapa produksi film Indonesia. Pemandangan indah dan struktur arsitektur yang menawan menjadikan kampus ITB sebagai pilihan yang sangat tepat untuk memperkuat nuansa dalam berbagai film.

Melalui ceruk-ceruknya yang mempesona, kampus ini telah memberikan latar belakang yang kuat bagi cerita yang berkisar mulai dari asmara remaja hingga perjuangan tokoh sejarah. Dengan begitu, kampus ITB tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga medan yang menginspirasi cerita-cerita berkesan dalam perfilman Indonesia. Dalam artikel ini, kita akan mengulas lima film terkenal yang memilih kampus ITB sebagai lokasi syuting utama dan bagaimana kampus tersebut memberikan warna unik pada narasi cerita masing-masing.

1. Bahwa Cinta Itu Ada (2010)

Bahwa Cinta Itu Ada
Cuplikan film Bahwa Cinta Itu Ada. (Foto: Indonesia Film Center)

Film "Bahwa Cinta Itu Ada" secara menarik menggambarkan perjalanan hidup sekelompok mahasiswa di kampus ITB. Dengan latar belakang yang beragam, seperti Slamet yang pendiam, Benny yang percaya diri, dan karakter-karakter lainnya, film ini mengungkap dinamika persahabatan, percintaan, serta tantangan yang dihadapi selama masa kuliah. Latar kampus ITB memberikan dimensi akademis dan keindahan alam Bandung, memberikan sentuhan khusus pada cerita yang berpusat pada persahabatan dan perjalanan hidup.

Dalam film ini, para karakter bersama-sama melewati suka duka kuliah, membentuk ikatan persahabatan yang kokoh. Cerita ini mengungkapkan perbedaan latar belakang keluarga dan permasalahan yang membentuk karakter mereka. Saat bertemu kembali dua dekade setelah lulus, karakter-karakter tersebut menghadapi perubahan dan tantangan hidup yang berbeda. Dengan mengambil kampus ITB sebagai latar belakang, film ini tidak hanya menyajikan narasi yang mendalam tentang kehidupan kampus, tetapi juga menggambarkan perjalanan emosional, pertemanan, dan perubahan dalam hidup mereka.

Baca juga: 5 Film Biopik Mengenai Tokoh-Tokoh Indonesia

2. Gema Kampus 66

Gema Kampus 66
cuplikan film Gema Kampus 66. (Foto: Indonesia Cinema The Que)

"Gema Kampus 66" adalah film nasional yang memilih Kampus ITB sebagai lokasi pengambilan gambar. Film ini menghadirkan tema dan alur cerita yang unik, membawa penonton pada kisah aktivis dan pimpinan gerakan mahasiswa pada tahun 1966 yang mengalami pertemuan jalan saat situasi kembali "normal." Karakter utama seperti Rima (Ariessa Suryo), Danu (Cok Simbara), dan Bima (Johan Mardjono) berusaha mempertahankan idealisme mereka terhadap pergerakan mahasiswa. Sementara itu, Bustaman, tokoh yang diidolakan di masa pergerakan, mengubah arah hidupnya untuk mencari keuntungan dan kekayaan. Meskipun tampilan permasalahan serius ini hadir dalam dialog, tindakan para karakter seringkali tidak sejalan dengan ucapan mereka. Film ini menampilkan semacam pesan moral atau sloganisme dalam penyampaian ceritanya.

Keluhan tentang kisah ini mungkin ada pada durasi yang panjang dan beragamnya peristiwa yang ingin disampaikan. Cerita film menghidupkan kembali peristiwa demonstrasi tahun 1966 di Bandung, membentuk sebagian besar film. Sisa film mengisahkan kehidupan para aktivis lima tahun setelahnya. Selain itu, ada nuansa kisah cinta yang terpendam antara Danu dan Rima, yang diwarnai oleh kelainan jantung Danu yang akhirnya merenggut nyawanya di saat puncak cerita. "Gema Kampus 66" mencoba untuk memadukan narasi sejarah, idealisme pergerakan mahasiswa, dan konflik personal para karakternya. Meskipun mungkin terdapat kelemahan dalam penyampaian, film ini tetap memberikan gambaran tentang era 1960-an dan dinamika sosial yang terjadi di kalangan mahasiswa pada masa itu.


3. Jomblo (2006)

Jomblo
cuplikan film Jomblo. (Foto: KineKlub LFM ITB Medium.com)

"Jomblo" mengambil lokasi shooting di Kampus ITB, Kota Bandung, dan mengisahkan perjalanan empat pemuda lajang yang sedang mencari cinta. Agus, Doni, Olip, dan Bimo adalah mahasiswa Teknik Sipil di Universitas Negeri Bandung (UNB). Meskipun satu angkatan, mereka memiliki pandangan yang berbeda terhadap cinta. Agus, salah satu karakter utama, dikenal karena idealismenya dalam mencari pasangan. Doni, di sisi lain, memiliki reputasi sebagai playboy yang pragmatis dalam hubungan dengan perempuan. Olip memilih untuk menyimpan perasaannya tanpa mengungkapkannya, hingga akhirnya meminta bantuan Doni untuk mendapatkan hati Asri, perempuan yang ia sukai. Sementara Bimo, sadar akan dirinya yang mungkin tidak memiliki penampilan menonjol, berusaha menghadapi perjuangan mendapatkan hati wanita.

Dalam cerita ini, film "Jomblo" mengeksplorasi dinamika persahabatan dan cinta di tengah kehidupan kampus. Dengan latar belakang Bandung sebagai tempat kisah berlangsung, film ini menciptakan atmosfer kota yang penuh energi dan memadukan unsur komedi dengan elemen dramatis. Melalui karakter-karakter yang beragam, "Jomblo" menghadirkan berbagai pandangan dan sikap terhadap percintaan, menciptakan cerita yang menghibur sekaligus memberikan refleksi tentang perjalanan emosional dan perjuangan para pemuda dalam menghadapi kisah cinta dan kehidupan kampus. Film ini juga mulai tayang pada tahun 2017 lalu dengan adaptasi pemain baru.

Baca juga: Sinopsis Film Batman Begins: Awal dari Trilogi Batman

4. Koboy Kampus (2019)

Koboy Kampus
cuplikan film Koboy Kampus. (Foto: Kincir.com)


Koboy Kampus mengisahkan tentang Pidi Baiq selama masa kuliahnya di Fakultas Seni Rupa ITB pada dekade 1990-an diangkat dalam narasi ini. Pidi (diperankan oleh Jason Ranti) bersama teman-temannya seperti Ninu (diperankan oleh Ricky Harun), Deni (diperankan oleh Bisma Karisma), Erwin (diperankan oleh David John Schaap), dan Dikdik (diperankan oleh Miqdad Auddasy) menggagas pembentukan sebuah negara independen yang diberi nama "Negara Kesatuan Republik The Panasdalam." Film ini menggambarkan dinamika masa kuliah, perjuangan, serta proses tumbuh kembang sekaligus mengangkat kisah cinta yang diberi sentuhan segar melalui lagu-lagu dari The Panasdalam Bank.

Lewat kisah ini, kita diajak memahami problematika yang dihadapi selama masa kuliah dan bagaimana persahabatan serta semangat untuk berkreasi menghadirkan sebuah negara khayalan. Mereka membangun negara itu dengan semangat kebebasan ekspresi, dan hal ini juga mencerminkan problematika dan dinamika masa kuliah pada saat itu. Sementara itu, latar belakang musikalitas dalam film, diwarnai oleh lagu-lagu menyegarkan dari The Panasdalam Bank, memberikan dimensi emosional yang kaya pada kisah cinta yang menghangatkan hati penonton.

5. Negeri 5 Menara (2012)

Negeri 5 Menara
cuplikan film Negeri 5 Menara. (Foto: komapsiana)

Film ini mengisahkan seorang pemuda bernama Alif, yang memutuskan untuk berangkat ke sebuah pondok pesantren atas permintaan ibunya, meskipun sebenarnya ia menginginkan perjalanan menuju kesuksesan seperti Habibie. Walaupun demikian, pesan hidup yang diperolehnya di pondok pesantren, yakni frasa "Man Jadda Wajada," membawa pemahaman mendalam mengenai esensi kehidupan dan aspirasi pribadinya, dengan memahami bahwa Tuhan selalu hadir untuk mendengar. Melalui pengalaman ini, ia menemukan jalan menuju sukses, karena kata-kata tersebut mengakar kuat dalam batinnya.

Latar belakang kisah ini mengambil tempat di Pondok Pesantren Modern Gontor di Jawa Tengah dan beberapa tempat di daerah Bandung, seperti Masjid Salman ITB Bandung, Lapangan Gasibu, SMPN 2 Jalan Sumatera, dan satu bangunan rumah di Jalan Nurtanio, Bandung. Dalam film ini, Negeri 5 Menara menjadi simbol cita-cita, perjuangan, dan perubahan karakter utama, Alif, dan juga teman-temannya. Setiap menara di pesantren tersebut memiliki makna yang mendalam yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan dan perjalanan spiritual karakter-karakter tersebut.


Melalui lima film yang berlokasi syuting di kampus ITB, kita dapat melihat bagaimana kampus ini tidak hanya menjadi latar belakang, tetapi juga ikut berkontribusi dalam membangun atmosfer cerita dan menghadirkan nuansa khas. Kehadiran ITB dalam produksi film Indonesia bukan hanya memberikan warna tambahan pada cerita, tetapi juga memberikan apresiasi pada nilai-nilai pendidikan, sejarah, dan keilmuan yang diemban oleh perguruan tinggi ini.

Comments